Kemarin (28/03/2011) Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi FIB-UI (dulu lebih akrab dikenal sebagai JIP) mengadakan suatu seminar untuk mahasiswa dan alumni untuk memperkenalkan standar pengatalogan baru yang akan menggantikan AACR2, yaitu RDA: Resource Description and Access. Standar baru ini telah diuji-coba di beberapa perpustakaan nasional. Akhir bulan ini US RDA Test Coordinating Committee akan melaporkan hasil analisis tes pada 3 perpustakaan nasional yang terlibat dalam seluruh proses persiapan RDA sebagai anggauta JSC (Joint Steering Committee for Development of RDA), yaitu National Library of Australia, British Library dan perpustakaan nasional Canada. Setelah evaluasi lebih lanjut maka diperkirakan dalam periode Juli - September 2011 Library of Congress akan me-release RDA Test Report dan keputusan tentang implementasi RDA.
Tujuan dari seminar DIPI ini adalah menciptakan kesadaran (creating awareness) akan adanya standar baru yang tentu saja akan disertai perubahan yang besar dan cukup mendasar dan harus disambut dengan tindakan antisipasi yang bijaksana. Sekaligus DIPI ingin meredakan kegelisahan yang mungkin sudah mulai timbul karena ada berbagai spekulasi tentang RDA dan dampaknya. Justru karena pengetahuan kebanyakan pustakawan Indonesia tentang RDA masih minim, maka ada dugaan-dugaan yang tidak benar. RDA = Rare Dangerous Animal???? RDA = Rudal yang akan memporakporandakan seluruh katalog yang sudah dengan susah payah dikembangkan di perpustakaan tempat kita bekerja???? Tidak, tidak. Berkenalanlah dulu dengan RDA sebelum memberi pendapat!
DIPI-FIB, sebagai lembaga pendidikan yang punya kewajiban mengikuti perkembangan di dunia perpustakaan dan informasi dan memperkenalkan yang baru pada peserta program-programnya, lewat seminar ini mengharapkan akan muncul respons positif dan bijaksana di seluruh kalangan pustakawan di Indonesia. Nomor satu ialah tentu saja sikap terbuka dan keinginan mengetahui lebih banyak tentang RDA. Kita tidak perlu menunggu sampai LC dan perpustakaan nasional besar lainnya mengumumkan evaluasi hasil uji-coba. Kita mulai sekarang sudah harus belajar sebanyak mungkin tentang model konseptual yang menjadi landasan RDA, yaitu FRBR (Functional Requirements for Bibliographic Records), FRAD (Functional Requirements for Authority Data), dan RDA itu sendiri. Dengan demikian kita nanti bisa ikut mengevaluasi dengan kritis evaluasi hasil uji-coba, dan menetapkan langkah-langkah yang tepat bagi perpustakaan di Indonesia. Tentu saja lembaga yang paling berperan dan harus memimpin dalam hal implementasi RDA di Indonesia adalah Perpustakaan Nasional RI. Tapi PNRI tidak mungkin mengambil keputusan-keputusan yang bijaksana tanpa partisipasi dari seluruh komunitas pustakawan Indonesia. Masukan perlu sekali, baik dari kalangan pustakawan praktisi maupun dari pustakawan pendidik.
Bahan berupa tulisan ilmiah, tulisan ringan, di situs resmi (seperti situs JSC) maupun blog, dlsb. bertebaran di WWW. Masalahnya, justru bukan terlalu sedikit sumber-sumber (resources) yang tersedia, tapi justru terlalu banyak! Pokoknya, tidak ada alasan untuk menunda mulai belajar tentang RDA! Salah satu kendala klasik ialah: masih kurang bahan dalam bahasa Indonesia. Betul, masih kurang, tapi sudah ada. Salah satu blog bagus tentang RDA dalam bahasa Indonesia adalah blog Wishnu Hardi, seorang pustakawan muda yang dengan fasih menjelaskan seluk beluk FRBR dan RDA dalam blognya.
Presentasi saya pada seminar kemarin merupakan suatu pengantar yang jauh dari lengkap. Keterbatasan waktu memaksa saya hanya mengemukakan hal-hal yang pokok saja, dan itupun juga diseleksi. Tapi semoga bisa bermanfaat. Jika Anda tidak hadir pada seminar tsb. dan ingin melihat slide presentation "Dari AACR2 ke RDA" tsb., silakan lihat Wiki Doi-Plus saya.
Comments